6 tahun adalah babak baru bagi perkembangan anak. Dia mulai bersekolah dasar dan lingkungan pergaulannya pun meluas. Di sisi lain, komunikasi dan ikatan emosional antara orangtua-anak harus tetap terbina.
Bagi Anda para orangtua, pernahkah tebersit rasa "iri" manakala si kecil mulai masuk sekolah dan lebih sering menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman barunya di sekolah ketimbang bersama Anda di rumah?
Menginjak usia sekolah dasar (6-12 tahun), lingkungan anak otomatis menjadi lebih luas. Anak punya lingkungan sosial baru di luar rumah dan lingkungan sekitar rumahnya. Mereka mendapati teman baru dan harus bergaul dengan teman sebayanya itu.
Pada rentang usia ini, anak biasanya sedang aktif bermain, bergerak, dan senang bekerja dalam kelompok. Dia juga senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.
Dengan meningkatnya interaksi dengan teman sebayanya, waktu yang dihabiskan bersama keluarga pun berkurang, apalagi jika orangtua juga bekerja. Akibatnya, ikatan emosi dengan orangtua bisa mengendur.
"Untuk itu, orangtua perlu melakukan penguatan melalui komunikasi yang intensif dengan anak," kata psikolog dari Universitas Indonesia, Dr Rosemini AP MPsi, dalam acara perdana Nestle Dancow Coklat Actigo "Apa Ceritamu Hari Ini" di Cilandak, Jakarta, baru-baru ini.
Orangtua harus memiliki tekad kuat untuk terus menjaga komunikasi dan kebersamaan dengan anak agar tetap erat dan hangat. Rosemini atau yang akrab disapa Bunda Romi mengingatkan bahwa keterampilan berbicara anak usia 6-12 tahun umumnya sedang mengalami peningkatan pesat sehingga orangtua semestinya tidak mengabaikan kesempatan emas mengajak anak berkomunikasi atau bertukar pikiran.
"Peran orangtua adalah memahami anak, menyejajarkan diri dengan cara pandang mereka. Membuka pintu komunikasi dengan anak sejak dini penting dilakukan untuk mempererat hubungan dan ikatan emosional dengannya. Kehangatan kasih sayang di dalam keluarga diharapkan dapat mewujudkan suasana nyaman baginya," beber Romi.
Kriminolog Amerika yang populer dengan Teori Kontrol Sosial dan Teori Ikatan Sosial, Travis Hirschi, pernah melakukan studi kenakalan pada anak laki-laki. Hasilnya terungkap bahwa makin erat komunikasi antara orangtua dan anak, makin kecil pula kemungkinan anak-anak tersebut untuk berkelakuan nakal.
Menurut penelitian, anak usia 6 tahun telah memiliki sekitar 13-14.000 kosakata serta menguasai berbagai konsep dan istilah. Anak sudah lebih independen, suka bercerita, serta dapat menyampaikan apa yang dialami dan dirasakan.
Orangtua bisa menjadi sahabat yang baik bagi anak tanpa menghilangkan wibawa sebagai orangtua. Misalnya dengan memberi teladan yang baik sehingga anak pun tidak canggung dan sungkan mencurahkan isi hatinya. Orangtua berpeluang mengikuti aktivitas, minat, dan hubungan anak dengan temantemannya melalui cerita anak.
Hal inilah yang kemudian dirangsang agar si anak bisa menceritakan hal yang terjadi lebih banyak lagi. Tidak hanya dalam pelajaran saja, melainkan lebih pada aktivitas si anak dalam bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah.
"Beberapa hal yang dapat dikomunikasikan dengan orangtua, di antaranya apa yang dialami dan dirasakan anak dari aktivitas yang dijalani itu diceritakan kembali untuk dicari solusinya. Nilai dan aturan yang hendak disampaikan orangtua kepada anak juga perlu dikomunikasikan," papar Romi.
Perbincangan dengan anak sebaiknya dilakukan dalam suasana menyenangkan sehingga akan memacu si kecil untuk mengembangkan kemampuan komunikasi verbalnya. Selain itu, pastikan komunikasi berlangsung dua arah sehingga lebih efektif karena orangtua dan anak bisa saling menanggapi satu sama lain.
Komunikasi searah, yaitu hanya orangtua yang berbicara, sementara anak hanya mendengarkan, tidak akan efektif. Jika anak terlihat pasif atau tidak berminat, pancinglah dia dengan pertanyaan kreatif dan menggelitik semangatnya untuk menjawab.
Atau apabila anak sulit mengungkapkan keinginannya secara lisan, arahkan dia untuk menulis surat atau buku sehingga komunikasi tetap berlangsung.
"Orangtua dapat menunjukkan perhatiannya kepada anak lewat kemampuan berempati dan mendengar aktif. Jikalau disampaikan lewat tulisan seperti buku atau surat, hendaknya usahakan tetap ada umpan balik," saran dia.
Lebih lanjut dia mengemukakan beberapa manfaat yang bisa didapat orangtua jika berhasil menerapkan komunikasi efektif dengan anak. Antara lain dapat mengetahui apa minat, potensi, kelebihan dan kekurangan anak sehingga tahu apa yang sedang dibutuhkan si anak.
Perlu diketahui juga bahwasanya anak pada setiap tahap perkembangan membutuhkan stimulasi yang berbeda. Melalui komunikasi yang efektif dan intens, orangtua dapat memberikan stimulasi yang sesuai kebutuhan si anak.
"Komunikasi bisa membangun kedekatan dengan anak dan meminimalisasi kesalahpahaman antara orangtua dengan anak. Anak juga merasa dihargai karena ceritanya mendapat perhatian atau tanggapan," tandas Romi.
Apa Ceritamu Hari Ini?
Komunikasi adalah inti dari kehidupan bermasyarakat. Sebagai makhluk sosial, komunikasi adalah "nyawa" manusia. Tak sekadar bisa berbicara atau menangkap pembicaraan pihak lain, kemampuan berkomunikasi bisa lebih diasah melalui berbagai cara.
Selain aktif berbincang dengan anak, orangtua dapat mengikutsertakan anak dalam kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasinya. Misalnya menghadiri acara-acara sekolah, bergabung dengan klub olahraga, atau mengikuti beragam lomba untuk anak.
Baru-baru ini, Nestle Dancow Coklat Actigo juga meluncurkan kompetisi "Apa Ceritamu Hari Ini" yang digelar 7 November 2009 hingga 14 Februari 2010. Program ini bertujuan mendorong si anak aktif untuk bercerita tentang apa saja yang dialaminya sehari-hari kepada orangtuanya, yang akhirnya akan membentuk kepercayaan diri anak di masa depan
"Peran kedua orangtua dalam memahami anaknya sangat diperlukan, caranya adalah dengan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi ini diperlukan saat si aktif bersosialisasi dengan teman dan guru di sekolah," komentar Romi perihal program yang akan dibarengi dengan roadshow di 18 kota besar di Indonesia.
"Kami ingin misi Nestle Dancow Coklat Actigo dapat tersosialisasi dengan luas, yakni mewujudkan anak Indonesia yang sehat, aktif dan percaya diri," imbuh Brand Manager Dancow, Pritha.
Apa Ceritamu Hari Ini adalah kompetisi menceritakan pengalaman seru atau cerita seru (tidak harus yang dialami hari itu) dalam bentuk surat (tertulis) ataupun rekaman video. Informasi terkait lomba ini dapat diunduh dalam situs www.dancow.co.id.
Bagi Anda para orangtua, pernahkah tebersit rasa "iri" manakala si kecil mulai masuk sekolah dan lebih sering menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman barunya di sekolah ketimbang bersama Anda di rumah?
Menginjak usia sekolah dasar (6-12 tahun), lingkungan anak otomatis menjadi lebih luas. Anak punya lingkungan sosial baru di luar rumah dan lingkungan sekitar rumahnya. Mereka mendapati teman baru dan harus bergaul dengan teman sebayanya itu.
Pada rentang usia ini, anak biasanya sedang aktif bermain, bergerak, dan senang bekerja dalam kelompok. Dia juga senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.
Dengan meningkatnya interaksi dengan teman sebayanya, waktu yang dihabiskan bersama keluarga pun berkurang, apalagi jika orangtua juga bekerja. Akibatnya, ikatan emosi dengan orangtua bisa mengendur.
"Untuk itu, orangtua perlu melakukan penguatan melalui komunikasi yang intensif dengan anak," kata psikolog dari Universitas Indonesia, Dr Rosemini AP MPsi, dalam acara perdana Nestle Dancow Coklat Actigo "Apa Ceritamu Hari Ini" di Cilandak, Jakarta, baru-baru ini.
Orangtua harus memiliki tekad kuat untuk terus menjaga komunikasi dan kebersamaan dengan anak agar tetap erat dan hangat. Rosemini atau yang akrab disapa Bunda Romi mengingatkan bahwa keterampilan berbicara anak usia 6-12 tahun umumnya sedang mengalami peningkatan pesat sehingga orangtua semestinya tidak mengabaikan kesempatan emas mengajak anak berkomunikasi atau bertukar pikiran.
"Peran orangtua adalah memahami anak, menyejajarkan diri dengan cara pandang mereka. Membuka pintu komunikasi dengan anak sejak dini penting dilakukan untuk mempererat hubungan dan ikatan emosional dengannya. Kehangatan kasih sayang di dalam keluarga diharapkan dapat mewujudkan suasana nyaman baginya," beber Romi.
Kriminolog Amerika yang populer dengan Teori Kontrol Sosial dan Teori Ikatan Sosial, Travis Hirschi, pernah melakukan studi kenakalan pada anak laki-laki. Hasilnya terungkap bahwa makin erat komunikasi antara orangtua dan anak, makin kecil pula kemungkinan anak-anak tersebut untuk berkelakuan nakal.
Menurut penelitian, anak usia 6 tahun telah memiliki sekitar 13-14.000 kosakata serta menguasai berbagai konsep dan istilah. Anak sudah lebih independen, suka bercerita, serta dapat menyampaikan apa yang dialami dan dirasakan.
Orangtua bisa menjadi sahabat yang baik bagi anak tanpa menghilangkan wibawa sebagai orangtua. Misalnya dengan memberi teladan yang baik sehingga anak pun tidak canggung dan sungkan mencurahkan isi hatinya. Orangtua berpeluang mengikuti aktivitas, minat, dan hubungan anak dengan temantemannya melalui cerita anak.
Hal inilah yang kemudian dirangsang agar si anak bisa menceritakan hal yang terjadi lebih banyak lagi. Tidak hanya dalam pelajaran saja, melainkan lebih pada aktivitas si anak dalam bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah.
"Beberapa hal yang dapat dikomunikasikan dengan orangtua, di antaranya apa yang dialami dan dirasakan anak dari aktivitas yang dijalani itu diceritakan kembali untuk dicari solusinya. Nilai dan aturan yang hendak disampaikan orangtua kepada anak juga perlu dikomunikasikan," papar Romi.
Perbincangan dengan anak sebaiknya dilakukan dalam suasana menyenangkan sehingga akan memacu si kecil untuk mengembangkan kemampuan komunikasi verbalnya. Selain itu, pastikan komunikasi berlangsung dua arah sehingga lebih efektif karena orangtua dan anak bisa saling menanggapi satu sama lain.
Komunikasi searah, yaitu hanya orangtua yang berbicara, sementara anak hanya mendengarkan, tidak akan efektif. Jika anak terlihat pasif atau tidak berminat, pancinglah dia dengan pertanyaan kreatif dan menggelitik semangatnya untuk menjawab.
Atau apabila anak sulit mengungkapkan keinginannya secara lisan, arahkan dia untuk menulis surat atau buku sehingga komunikasi tetap berlangsung.
"Orangtua dapat menunjukkan perhatiannya kepada anak lewat kemampuan berempati dan mendengar aktif. Jikalau disampaikan lewat tulisan seperti buku atau surat, hendaknya usahakan tetap ada umpan balik," saran dia.
Lebih lanjut dia mengemukakan beberapa manfaat yang bisa didapat orangtua jika berhasil menerapkan komunikasi efektif dengan anak. Antara lain dapat mengetahui apa minat, potensi, kelebihan dan kekurangan anak sehingga tahu apa yang sedang dibutuhkan si anak.
Perlu diketahui juga bahwasanya anak pada setiap tahap perkembangan membutuhkan stimulasi yang berbeda. Melalui komunikasi yang efektif dan intens, orangtua dapat memberikan stimulasi yang sesuai kebutuhan si anak.
"Komunikasi bisa membangun kedekatan dengan anak dan meminimalisasi kesalahpahaman antara orangtua dengan anak. Anak juga merasa dihargai karena ceritanya mendapat perhatian atau tanggapan," tandas Romi.
Apa Ceritamu Hari Ini?
Komunikasi adalah inti dari kehidupan bermasyarakat. Sebagai makhluk sosial, komunikasi adalah "nyawa" manusia. Tak sekadar bisa berbicara atau menangkap pembicaraan pihak lain, kemampuan berkomunikasi bisa lebih diasah melalui berbagai cara.
Selain aktif berbincang dengan anak, orangtua dapat mengikutsertakan anak dalam kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasinya. Misalnya menghadiri acara-acara sekolah, bergabung dengan klub olahraga, atau mengikuti beragam lomba untuk anak.
Baru-baru ini, Nestle Dancow Coklat Actigo juga meluncurkan kompetisi "Apa Ceritamu Hari Ini" yang digelar 7 November 2009 hingga 14 Februari 2010. Program ini bertujuan mendorong si anak aktif untuk bercerita tentang apa saja yang dialaminya sehari-hari kepada orangtuanya, yang akhirnya akan membentuk kepercayaan diri anak di masa depan
"Peran kedua orangtua dalam memahami anaknya sangat diperlukan, caranya adalah dengan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi ini diperlukan saat si aktif bersosialisasi dengan teman dan guru di sekolah," komentar Romi perihal program yang akan dibarengi dengan roadshow di 18 kota besar di Indonesia.
"Kami ingin misi Nestle Dancow Coklat Actigo dapat tersosialisasi dengan luas, yakni mewujudkan anak Indonesia yang sehat, aktif dan percaya diri," imbuh Brand Manager Dancow, Pritha.
Apa Ceritamu Hari Ini adalah kompetisi menceritakan pengalaman seru atau cerita seru (tidak harus yang dialami hari itu) dalam bentuk surat (tertulis) ataupun rekaman video. Informasi terkait lomba ini dapat diunduh dalam situs www.dancow.co.id.


Lihat Daftar Isi !



Komentar :
Poskan Komentar